Hallo pembaca setia (narsis, padahal gak
ada yang baca). Maaf banget ni yang udah nunggu-nunggu tulisanku (demit paling
fas seng nunggu tulisanmu). Baru bisa update sekarang ni gara-gara jadwal
kuliah yang padet banget kaya Mall Malioboro zzz. Nah untuk update yang kali
ini, bakalan aku certain ni pengalaman+pemikiran yang aneh pas aku
kuliah+praktikum. Oke cekidot.
Aku kuliah di
Fakultas Ilmu dan Industri di salah satu universitas di selatan Gunung Merapi. Keren
kan? Fakultas Ilmu dan Industri berarti aku mempelajari ilmu-ilmu industri
tingkat atas yang membutuhkan IQ sangat tinggi. Oh iya ralat, ada kata-kata
yang ketinggalan, maksudku adalah Ilmu dan Industri (Peternakan). Oke
lupakan!!! Cukup nyenengin sih aku kuliah di Fakultas itu, toh karena itu emang
tujuan+niatku dari dulu gara-gara kecintaanku pada ayam+sapi+keboo. Semester 1
dan 2 masih flat flat aja menurutku, tapi begitu tahun 2012 ini aku masuk
semester 3, ohh semprul bawul bin gadul ternyata seperti ini kuliahku yang
sesungguhnya hahaha.
Awal mula
kesemprulanku adalah saat ambil jadwal di awal semester, setelah udah aku ambil,
terus aku cermatin jadwalnya. Ooh ada 7 mata kuliah, dan seluruhnya 3 sks. Wuus
bakal dahsyat ni, tapi jalanin ajalah, tapi ternyata niat dan omongan tidak
sesulit melakukannya hahaha. Sebelumnya aku sebutin plus jelasin satu per satu
nama mata kuliah ku
1. Bioter
BIOKIMIA TERNAK,
mata kuliah killer, kayaknya aku kena kutukan untuk mata kuliah ini gara-gara
aku sering ngejek dosen yang terhormat, sebut saja namanya Bu Mira, yaa
gambaran wajahnya bisa dilihat di bawah, itu sketsa ku. Tapi tanpa mengurangi
hormat sedikitpun Dosen ini merupakan motivator yang luar biasa hehe cuma aku
ne wae seng rodo ndableg. (Dalam hati berdoa, Ya Allah ampuni dosaku,
berikanlah nilai A pada mata kuliah bioterku)
2. Ilmu
dan Teknologi Daging
Ilmu yang isinya
masak masak daging, bakso, sosis, dendeng, dan hasil masakanku pasti jadi kayak
tas kresek hitem yang dibakar.
3. Ilmu
Ternak Potong
Ngomongin sapi
potong, pokoknya serba hewan potong. Salah satu praktikumnya adalah membunuh
kelinci yang unyu-unyu sekali terus mendedel-dedel dagingnya terus memasaknya
menjadi tongseng ato sate zzzz.
4. Ilmu
Ternak Perah
Ngomongin sapi
perah, asik ni karena urusannya memerah dan aku suka memerah susu, susu sapi
maksud saya.
5. Lainnya
lupa deh, males liat jadwal+males ngetik juga jadi yang dibahas 4 aja
Oke, sebenernya kuliahnya itu fine fine
aja. Masuk kelas, duduk, memperhatikan dosen cukup bentar, tidur, ngiler,
ditunjuk dosen, suruh njawab pertanyaan, gak bisa njawab, dijewer, disuruh
berdiri didepan kelas sambil angkat satu kaki, pegang kedua telinga, dan melet
melet. Tuh salah satu kegiatanku bisa diliat di bawah.
Yang bikin serem adalah praktikumnya jeng
jeng jeng jeng *musik-musik horror kayak di film kain kafan perawan*. Jadwal praktikumnya gak main-main, ada yang 12
jam non stop mengamati sapi, ada yang harus sampe nginep di kandang sapi, ada
yang harus bersihin kandang sapi, dan lainnya lah. Tapi tetep saja ada salah
satu praktikum yang tidak terlupa sepanjang masa, yaitu praktikum dengan
patkai, alias BABI
PRAKTIKUM BABI
Praktikum
ini pada intinya adalah mengamati data fisiologis dan ukuran dari babi seperti,
ngamatin pernapasan, suhu tubuh, ngukur besarnya babi dll. Dalam satu kelompok
terdiri dari 3 orang yang berkewajiban mengamati satu ekor babi alias patkai. Partner
praktikum kali ini sebut saja dengan Nia dan Kasino. Sebelum aku masuk kandang
babi, aku mendengarkan penjelasan asisten praktikum tentang apa yang harus
dilakukan pada saat praktikum, dan asistenku mengingatkan agar kelompok kita
SIAP MENTAL. Lhah? Lhah? Kok ada siap mental segala ni? Menurut bayanganku,
babi adalah makhluk pink unyu-unyu yang cuma bisa ngomong “ngok-ngok” kayak di
pelm shaun the sheep, jadi aku menjalankan praktikum dengan begitu santai,
begitu SANTAI PADA AWALNYA. Begitu masuk kandang babi, jebulane bayanganku
salah totaaaaaaal. PANTESAN GUE DISURUH SIAP MENTAAAAL, KELEK TENAN!!!. Babi
yang kecil, pink, unyu-unyu, ternyata
hanya ada di pelm! Aslinya babi itu guedeee banget, lebih gede dari kambing,
pink sih pink tapi gak ada unyu-unyunya, suaranya buka ngok-ngok tapi
aaaaiiiiiik aiiiiiiikkkk kayak anjing nangis. Yak, seketika, wajahku yang
kesannya santai cengengas cengenges tiba tiba jadi biru, pucet, keringeten,
kayak bakpia rasa kacang ijo yang baru mateng. Bumi gonjang-ganjing, anak babi
sama anak anjing, mending milih njengking.
Aku
masuk ke salah satu kandang babi yang berukuran 3x3m yang berisi 6 ekor babi
seberat 200kg an. Tuh babi berat 200kg, APANYA YANG UNYU-UNYUU?? Ini mah bukan
babi di shaun the sheep tapi lebih mirip kayak patkai. Setelah masuk tuh, aku
mulai mengamati babi-babi gedhe itu. Sambil dengerin apa kata asisten praktikum
tentang apa-apa yang harus aku lakuin yang udah lengkap tertera di buku panduan
praktikum yang aku pegang dan baca. Pertama, aku sama partnerku harus melakukan
yang namanya handling atau mengontrol tu babi biar nurut sama aku. Menurut buku
panduan, cara mengontrol babi berukuran besar adalah menutup mata kirinya dan
menepuk-nepuk pantatnya apabila menginginkan babi belok ke kanan, kalo mau
belok ke kiri, tinggal di tutup mata kanan terus di tepok-tepok deh pantatnya.
WAAAH SIMPEL BANGET, KALO KAYAK GINI MAH AKU JUGA BISA. Begonolah pikiranku,
tapi sekali lagi hanya PADA AWALNYA. Langsung deh aku praktekin sama si Kasino
cara mengontrol babi. Kasino tutup mata kanannya terus aku yang tepok-tepok
lembut pantatnya “plok plok plok” empuk sekali, alhasil GAK MEMPAN. Ahh mungkin
si Kasino nutup matanya gak bener ni, apa aku yang nepoknya kurang kenceng, Aku
ulangi deh langkah yang sama, Cuma tepokanku lebih kenceng “plaaaak plaaaaaak
plaaaaaak” alhasil TETEP GAK MEMPAAAAN!!!. Si babi Cuma diem sambil “ngoook
ngooook” cium cium kakinya Kasino.
Aku : “Kas kok gak mempan
gini sih cara handlingnya??”
Kasino : “Kagak tau ni, kita pas
dapet babi yang ngeyel kali ye?”
Aku : “Ni
buku panduannya yang salah, babinya yang ngeyel, apa kitanya yang dibegoin sama
babi sih?”
Kasino : “Hahaha,
lah kagak tau juga, dia gamau belok ke kiri kali, coba kita belokin ke kanan,
elu mukulnya agak kencengan aje fak!”
Aku : “Oke deh, coba sekali
lagi.
Usaha
terakhirku sama Kasino ni, kasino tutup mata kirinya terus aku yang tepok-tepok
lembut pantatnya, masih gak mempan. Kedua kalinya, aku tepok-tepok agak keras
lagi, GAK MEMPAN. Ketiga kali aku tepok-tepok keras banget, dan GAK MEMPAAAAAN
JUGAAAA, DASAAAAR BABIIIII!!!!. Saking emosinya, pada percobaan yang keempat, aku elus-elus terus aku remes-remes mesra
tuh babi sambil dalem hati bilang “ayoo patkai, ni aku remes-remes pantatmu,
ayo geraaak!!” Alhasil, babi itu gak belok ke kanan dan gak belok ke kiri, tapi
malah lari tunggang langgang kenceng banget muterin kandang sambil ngomong
“aiiiiik, aiiiik, ngooooook”. Kute kumpret kena santeeet, ni babi jadi horny
kali ya aku remes-remes pantatnya? Duh duh duh repooooooot.
Beranjak
ke langkah praktikum yang berikutnya, yaitu mengukur ukuran tubuh dan berat babi.
Salah satu syarat untuk mengukur berat badan babi adalah mengukur lingkar
dadanya pake meteran baju. Terus mikir deh aku, gimana cara melingkarkan
meteran ini di dada nya babi? Aku baca deh buku panduan, ternyata oh ternyata,
caranya adalah memeluk si BABI. Sempruul, Minggu-minggu pagi harusnya aku masih
di rumah masih meluk guling ini malah suruh meluk babi. Gembeeel.
Langkah
selanjutnya, mengukur suhu tubuh babi. Pada saat itu, asisten praktikum memberi
saya setangkai mawar meraaaaaah . . . eh salah maksud saya setangkai
thermometer suhu badan. Pemikiran saya pada awalnya, sekali lagi PADA AWALNYA,
pengukuran suhu badan pada babi adalah sama dengan manusia yaitu menjepitkan
thermometer ke kelek sang babi, tapi kemudian, pikiran dalam otak saya yang
tinggal seperempat gram ini berjalan, BABI NGGAK PUNYA KELEK!! Terus begimane
caranye ngukur suhu badanyee? Aku pun bertanya pada sang asisten yang baik
hati. Dan setelah pertanyaan saya lemparkan, ternyata saya sekarang tau
caranya. Mengukur suhu badan babi adalah dengan memasukkan thermometer ke dalam
anus babi, Ya saya ulangi sekali lagi anus. Ya anus itu bahasa kerennya sailit.
Ya sailit itu adalah lubang yang terdapat pada pantat babi, Saya ulangi sekali
lagi anus alias sailit adalah LUBANG PANTAT. Jackpot sekali, setelah
remes-remes pantat babi, saya harus memeluknya, terus saya harus menusuk-nusuk
lubang pantat babi dengan thermometer. Sebenernya lebih kasian saya atau
babinya sih? Ambyaaaaaaarrr.
Oke,
setelah itu, saya berpikir praktikum telah selesai tapi ternyata ada satu yang
kelupaan yaitu mengukur pernapasan dari sang babi dan jujur inilah klimaks,
puncak, dan finishing dari praktikum ini yang paling tidak terlupakan. Aku baca
buku petunjuk praktikum yang mengatakan bahwa cara mengukur pernapasan babi ialah
dengan memegang hidung atau congor dari babi itu sendiri. Wadefak!! Aku harus
pegang congor babi. Once Again. AKU HARUS PEGANG CONGOR BABI. Pikiran itu
melayang-layang di otakku. Jujur, rada geli plus sedikit banget rasa takut
(padahal takutnya banget-banget). Seumur-umur, lagi sekali ini aku lihat dan
kontak langsung dengan babi. Hal itu aja udah bikin aku kewalahan plus sedikit
banget rasa takut itu tadi (sekali lagi, padahal takutnya banget-banget),
apalagi kalo suruh pegang congor babi, Buseeet @#0*&^@^!@!@#)$(?? Zzzzzz.
Berpikir
sejenak, lelah diperalat, aku pun lihat ke kasino, berniat mengatakan “kas,
kamu aja yang pegang congornya” tapi ternyata kasino telah berguru ke Om Deddy
Corbuzer sehingga bisa membaca pikiranku dan menggeleng-gelengkan kepala. Aku
lihat ke Nia, partnerku yang cewek sendiri, dia udah hampir nangis daritadi
-______- njuk iki kepiye? Mosok kudu aku? Terpaksa deh aku memberanikan diri
huahahahahaha. Tapi sekali lagi, melakukan itu tidak semudah membayangkan,
tiba-tiba sang babi yang gedenya minta ampun ini lari-lari kesana kemari jadi
berontak kalo dipegang. DUH SEMPRUL!! DASAR BABII!! Aku sama Kasino pun menahan
si babi biar tetep anteng tapi malah sang babi tambah berontak gak karuan dan
kakiku sempet keinjek BABI seberat 200kg lebih. Rasanya GURIH! Segurih umbel!
Untung aku pake sepatu boots jadi aman deh gak menderita lecet-lecet berlebih. Udah
hampir 10 menit aku sama Kasino berkutat sama babi yang tiba-tiba jadi
beringas, dan akhirnya si asisten praktikumku pun memberikan solusi jitu.
Menurutku sih solusi jitu tapi menipu, dan saya bersama Kasino berhasil
tertipu.
Aku : Mas, ini gimana? Gak
mau anteng ni babinya.
Asprak : Takut kali sama kalian
Aku : Ada solusi gak mas?
Asprak : Ada, ada solusi jitu buat
nenangin babi, tp serius kalian mau nglakuin?
Kasino : Serius mas, dari pada
kelamaan
Asprak : Oke, kalian jongkok, dekatin
tuh babi, terus langkah selanjutnya adalah memilin-milin puting si babi,
semakin banyak puting yang kamu pilin semakin baik
Aku : (Mencerna kata-kata
dari asisten praktikum, selang beberapa detik kemudian…..) puting mas? Puting
susu babi?
Asprak : Iyalah, masa puting dot?
Aku : Tapi aku belum pernah
pegang puting mas (sambil merengek)
Kasino : Bener mas, dan rencana,
habis nikah baru aku berani pegang puting
YAAAK
BERHUBUNG PERCAKAPAN SELANJUTNYA ADALAH KONSUMSI PRIA BERUMUR 18 KESAMPING,
MAKA DIALOG TIDAK DILANJUTKAN.
Dan
kalian tahu efek setelah babi dipilin-pilin putingnya? Dia anteng. Oke siiip,
ajaib sekali ni tips, dan saya berhasil pegang tuh congor babi untuk ngukur
jumlah pernafasannya dalam 1 menit. Yaaah basaaah deh tanganku sama air liurnya
bzbzbzbz. Oh ya tambahan ni, kemaren aku sempet menafsirkan umur babi yang
punya berat sekitar 200kgan ini. Aku nafsirin sekitar umur 3,5 tahun lah yaa,
berdarkan berat badannya gitu. TAPIII ternyata eh ternyataaaa umurnya masih 8
bulan. GEMBEL KAN?!!!!! Umur 7 bulan bisa mencapai berat 200 kgan. EKSTRIIIM
GILAAAA!!!
Yaaa begitulah kira-kira
praktikum dengan hewan babi, rusuh tapi menyenangkan. Oh ya tenaaang hehe aku
muslim dan saya sudah bersuci setelah praktikum itu jadi jangan ada pikiran
pikiran negatif hehe. Tapi jujur, ada satu hal yang perlu digaris bawahi.
Pemilik peternakan babi adalah orang etnis cina (NO SARA, aku bukan pengacara
yang bersedia jadi calon presiden muda *harusnya kalian tau siapa*) tapi beliau
baik banget, ngasih aku air minum sama wafer buat ganjel perut hahaahhaha dan
tentunya sangat menghargai saya sebagai muslim bahkan beliau menyiapkan tempat
bersuci khusus dengan pasir dan seperangkatnya serta tau tata cara bersuci. SO?
Kenapa sih diantara kita masih sering menyinggung-nyinggu SARA? Padahal saling
menghormati dengan sejuta perbedaan itu indah looo HAHAHA TUMBEN AKU BIJAKSANA
OKEE NEXT tunggu tulisan saya
selanjutnya!!!



rodo mlenceng neng akhir..tapi blogmu konsisten bianget..
BalasHapusHaha caramu cerita apik,
BalasHapushaha, asistne pas iku aku dudu le..?? haaaa, apik critamu..
BalasHapus