Selasa, 29 Januari 2013

Kuliah dan Praktikum


Hallo pembaca setia (narsis, padahal gak ada yang baca). Maaf banget ni yang udah nunggu-nunggu tulisanku (demit paling fas seng nunggu tulisanmu). Baru bisa update sekarang ni gara-gara jadwal kuliah yang padet banget kaya Mall Malioboro zzz. Nah untuk update yang kali ini, bakalan aku certain ni pengalaman+pemikiran yang aneh pas aku kuliah+praktikum. Oke cekidot.

Aku kuliah di Fakultas Ilmu dan Industri di salah satu universitas di selatan Gunung Merapi. Keren kan? Fakultas Ilmu dan Industri berarti aku mempelajari ilmu-ilmu industri tingkat atas yang membutuhkan IQ sangat tinggi. Oh iya ralat, ada kata-kata yang ketinggalan, maksudku adalah Ilmu dan Industri (Peternakan). Oke lupakan!!! Cukup nyenengin sih aku kuliah di Fakultas itu, toh karena itu emang tujuan+niatku dari dulu gara-gara kecintaanku pada ayam+sapi+keboo. Semester 1 dan 2 masih flat flat aja menurutku, tapi begitu tahun 2012 ini aku masuk semester 3, ohh semprul bawul bin gadul ternyata seperti ini kuliahku yang sesungguhnya hahaha.

Awal mula kesemprulanku adalah saat ambil jadwal di awal semester, setelah udah aku ambil, terus aku cermatin jadwalnya. Ooh ada 7 mata kuliah, dan seluruhnya 3 sks. Wuus bakal dahsyat ni, tapi jalanin ajalah, tapi ternyata niat dan omongan tidak sesulit melakukannya hahaha. Sebelumnya aku sebutin plus jelasin satu per satu nama mata kuliah ku

1.      Bioter
BIOKIMIA TERNAK, mata kuliah killer, kayaknya aku kena kutukan untuk mata kuliah ini gara-gara aku sering ngejek dosen yang terhormat, sebut saja namanya Bu Mira, yaa gambaran wajahnya bisa dilihat di bawah, itu sketsa ku. Tapi tanpa mengurangi hormat sedikitpun Dosen ini merupakan motivator yang luar biasa hehe cuma aku ne wae seng rodo ndableg. (Dalam hati berdoa, Ya Allah ampuni dosaku, berikanlah nilai A pada mata kuliah bioterku)


2.      Ilmu dan Teknologi Daging
Ilmu yang isinya masak masak daging, bakso, sosis, dendeng, dan hasil masakanku pasti jadi kayak tas kresek hitem yang dibakar.

3.      Ilmu Ternak Potong
Ngomongin sapi potong, pokoknya serba hewan potong. Salah satu praktikumnya adalah membunuh kelinci yang unyu-unyu sekali terus mendedel-dedel dagingnya terus memasaknya menjadi tongseng ato sate zzzz.

4.      Ilmu Ternak Perah
Ngomongin sapi perah, asik ni karena urusannya memerah dan aku suka memerah susu, susu sapi maksud saya.

5.       Lainnya lupa deh, males liat jadwal+males ngetik juga jadi yang dibahas 4 aja
Oke, sebenernya kuliahnya itu fine fine aja. Masuk kelas, duduk, memperhatikan dosen cukup bentar, tidur, ngiler, ditunjuk dosen, suruh njawab pertanyaan, gak bisa njawab, dijewer, disuruh berdiri didepan kelas sambil angkat satu kaki, pegang kedua telinga, dan melet melet. Tuh salah satu kegiatanku bisa diliat di bawah.


eh salah gambar!!! yang bener yang ini nih

Yang bikin serem adalah praktikumnya jeng jeng jeng jeng *musik-musik horror kayak di film kain kafan perawan*.  Jadwal praktikumnya gak main-main, ada yang 12 jam non stop mengamati sapi, ada yang harus sampe nginep di kandang sapi, ada yang harus bersihin kandang sapi, dan lainnya lah. Tapi tetep saja ada salah satu praktikum yang tidak terlupa sepanjang masa, yaitu praktikum dengan patkai, alias BABI
               
PRAKTIKUM BABI
                Praktikum ini pada intinya adalah mengamati data fisiologis dan ukuran dari babi seperti, ngamatin pernapasan, suhu tubuh, ngukur besarnya babi dll. Dalam satu kelompok terdiri dari 3 orang yang berkewajiban mengamati satu ekor babi alias patkai. Partner praktikum kali ini sebut saja dengan Nia dan Kasino. Sebelum aku masuk kandang babi, aku mendengarkan penjelasan asisten praktikum tentang apa yang harus dilakukan pada saat praktikum, dan asistenku mengingatkan agar kelompok kita SIAP MENTAL. Lhah? Lhah? Kok ada siap mental segala ni? Menurut bayanganku, babi adalah makhluk pink unyu-unyu yang cuma bisa ngomong “ngok-ngok” kayak di pelm shaun the sheep, jadi aku menjalankan praktikum dengan begitu santai, begitu SANTAI PADA AWALNYA. Begitu masuk kandang babi, jebulane bayanganku salah totaaaaaaal. PANTESAN GUE DISURUH SIAP MENTAAAAL, KELEK TENAN!!!. Babi yang  kecil, pink, unyu-unyu, ternyata hanya ada di pelm! Aslinya babi itu guedeee banget, lebih gede dari kambing, pink sih pink tapi gak ada unyu-unyunya, suaranya buka ngok-ngok tapi aaaaiiiiiik aiiiiiiikkkk kayak anjing nangis. Yak, seketika, wajahku yang kesannya santai cengengas cengenges tiba tiba jadi biru, pucet, keringeten, kayak bakpia rasa kacang ijo yang baru mateng. Bumi gonjang-ganjing, anak babi sama anak anjing, mending milih njengking.
                Aku masuk ke salah satu kandang babi yang berukuran 3x3m yang berisi 6 ekor babi seberat 200kg an. Tuh babi berat 200kg, APANYA YANG UNYU-UNYUU?? Ini mah bukan babi di shaun the sheep tapi lebih mirip kayak patkai. Setelah masuk tuh, aku mulai mengamati babi-babi gedhe itu. Sambil dengerin apa kata asisten praktikum tentang apa-apa yang harus aku lakuin yang udah lengkap tertera di buku panduan praktikum yang aku pegang dan baca. Pertama, aku sama partnerku harus melakukan yang namanya handling atau mengontrol tu babi biar nurut sama aku. Menurut buku panduan, cara mengontrol babi berukuran besar adalah menutup mata kirinya dan menepuk-nepuk pantatnya apabila menginginkan babi belok ke kanan, kalo mau belok ke kiri, tinggal di tutup mata kanan terus di tepok-tepok deh pantatnya. WAAAH SIMPEL BANGET, KALO KAYAK GINI MAH AKU JUGA BISA. Begonolah pikiranku, tapi sekali lagi hanya PADA AWALNYA. Langsung deh aku praktekin sama si Kasino cara mengontrol babi. Kasino tutup mata kanannya terus aku yang tepok-tepok lembut pantatnya “plok plok plok” empuk sekali, alhasil GAK MEMPAN. Ahh mungkin si Kasino nutup matanya gak bener ni, apa aku yang nepoknya kurang kenceng, Aku ulangi deh langkah yang sama, Cuma tepokanku lebih kenceng “plaaaak plaaaaaak plaaaaaak” alhasil TETEP GAK MEMPAAAAN!!!. Si babi Cuma diem sambil “ngoook ngooook” cium cium kakinya Kasino.

Aku                        : “Kas kok gak mempan gini sih cara handlingnya??”
Kasino                   : “Kagak tau ni, kita pas dapet babi yang ngeyel kali ye?”
Aku                        : “Ni buku panduannya yang salah, babinya yang ngeyel, apa kitanya yang dibegoin sama babi sih?”
Kasino                   : “Hahaha, lah kagak tau juga, dia gamau belok ke kiri kali, coba kita belokin ke kanan, elu mukulnya agak kencengan aje fak!”
Aku                        : “Oke deh, coba sekali lagi.
               
                Usaha terakhirku sama Kasino ni, kasino tutup mata kirinya terus aku yang tepok-tepok lembut pantatnya, masih gak mempan. Kedua kalinya, aku tepok-tepok agak keras lagi, GAK MEMPAN. Ketiga kali aku tepok-tepok keras banget, dan GAK MEMPAAAAAN JUGAAAA, DASAAAAR BABIIIII!!!!. Saking emosinya, pada percobaan yang keempat, aku elus-elus terus aku remes-remes mesra tuh babi sambil dalem hati bilang “ayoo patkai, ni aku remes-remes pantatmu, ayo geraaak!!” Alhasil, babi itu gak belok ke kanan dan gak belok ke kiri, tapi malah lari tunggang langgang kenceng banget muterin kandang sambil ngomong “aiiiiik, aiiiik, ngooooook”. Kute kumpret kena santeeet, ni babi jadi horny kali ya aku remes-remes pantatnya? Duh duh duh repooooooot.
                Beranjak ke langkah praktikum yang berikutnya, yaitu mengukur ukuran tubuh dan berat babi. Salah satu syarat untuk mengukur berat badan babi adalah mengukur lingkar dadanya pake meteran baju. Terus mikir deh aku, gimana cara melingkarkan meteran ini di dada nya babi? Aku baca deh buku panduan, ternyata oh ternyata, caranya adalah memeluk si BABI. Sempruul, Minggu-minggu pagi harusnya aku masih di rumah masih meluk guling ini malah suruh meluk babi. Gembeeel.
                Langkah selanjutnya, mengukur suhu tubuh babi. Pada saat itu, asisten praktikum memberi saya setangkai mawar meraaaaaah . . . eh salah maksud saya setangkai thermometer suhu badan. Pemikiran saya pada awalnya, sekali lagi PADA AWALNYA, pengukuran suhu badan pada babi adalah sama dengan manusia yaitu menjepitkan thermometer ke kelek sang babi, tapi kemudian, pikiran dalam otak saya yang tinggal seperempat gram ini berjalan, BABI NGGAK PUNYA KELEK!! Terus begimane caranye ngukur suhu badanyee? Aku pun bertanya pada sang asisten yang baik hati. Dan setelah pertanyaan saya lemparkan, ternyata saya sekarang tau caranya. Mengukur suhu badan babi adalah dengan memasukkan thermometer ke dalam anus babi, Ya saya ulangi sekali lagi anus. Ya anus itu bahasa kerennya sailit. Ya sailit itu adalah lubang yang terdapat pada pantat babi, Saya ulangi sekali lagi anus alias sailit adalah LUBANG PANTAT. Jackpot sekali, setelah remes-remes pantat babi, saya harus memeluknya, terus saya harus menusuk-nusuk lubang pantat babi dengan thermometer. Sebenernya lebih kasian saya atau babinya sih? Ambyaaaaaaarrr.
                Oke, setelah itu, saya berpikir praktikum telah selesai tapi ternyata ada satu yang kelupaan yaitu mengukur pernapasan dari sang babi dan jujur inilah klimaks, puncak, dan finishing dari praktikum ini yang paling tidak terlupakan. Aku baca buku petunjuk praktikum yang mengatakan bahwa cara mengukur pernapasan babi ialah dengan memegang hidung atau congor dari babi itu sendiri. Wadefak!! Aku harus pegang congor babi. Once Again. AKU HARUS PEGANG CONGOR BABI. Pikiran itu melayang-layang di otakku. Jujur, rada geli plus sedikit banget rasa takut (padahal takutnya banget-banget). Seumur-umur, lagi sekali ini aku lihat dan kontak langsung dengan babi. Hal itu aja udah bikin aku kewalahan plus sedikit banget rasa takut itu tadi (sekali lagi, padahal takutnya banget-banget), apalagi kalo suruh pegang congor babi, Buseeet @#0*&^@^!@!@#)$(?? Zzzzzz.
                Berpikir sejenak, lelah diperalat, aku pun lihat ke kasino, berniat mengatakan “kas, kamu aja yang pegang congornya” tapi ternyata kasino telah berguru ke Om Deddy Corbuzer sehingga bisa membaca pikiranku dan menggeleng-gelengkan kepala. Aku lihat ke Nia, partnerku yang cewek sendiri, dia udah hampir nangis daritadi -______- njuk iki kepiye? Mosok kudu aku? Terpaksa deh aku memberanikan diri huahahahahaha. Tapi sekali lagi, melakukan itu tidak semudah membayangkan, tiba-tiba sang babi yang gedenya minta ampun ini lari-lari kesana kemari jadi berontak kalo dipegang. DUH SEMPRUL!! DASAR BABII!! Aku sama Kasino pun menahan si babi biar tetep anteng tapi malah sang babi tambah berontak gak karuan dan kakiku sempet keinjek BABI seberat 200kg lebih. Rasanya GURIH! Segurih umbel! Untung aku pake sepatu boots jadi aman deh gak menderita lecet-lecet berlebih. Udah hampir 10 menit aku sama Kasino berkutat sama babi yang tiba-tiba jadi beringas, dan akhirnya si asisten praktikumku pun memberikan solusi jitu. Menurutku sih solusi jitu tapi menipu, dan saya bersama Kasino berhasil tertipu.
                Aku                        : Mas, ini gimana? Gak mau anteng ni babinya.
                Asprak                  : Takut kali sama kalian
                Aku                        : Ada solusi gak mas?
                Asprak                  : Ada, ada solusi jitu buat nenangin babi, tp serius kalian mau nglakuin?
                Kasino                   : Serius mas, dari pada kelamaan
Asprak                  : Oke, kalian jongkok, dekatin tuh babi, terus langkah selanjutnya adalah memilin-milin puting si babi, semakin banyak puting yang kamu pilin semakin baik
                Aku                        : (Mencerna kata-kata dari asisten praktikum, selang beberapa detik kemudian…..) puting mas? Puting susu babi?
                Asprak                  : Iyalah, masa puting dot?
                Aku                        : Tapi aku belum pernah pegang puting mas (sambil merengek)
                Kasino                   : Bener mas, dan rencana, habis nikah baru aku berani pegang puting
                YAAAK BERHUBUNG PERCAKAPAN SELANJUTNYA ADALAH KONSUMSI PRIA BERUMUR 18 KESAMPING, MAKA DIALOG TIDAK DILANJUTKAN.

                Dan kalian tahu efek setelah babi dipilin-pilin putingnya? Dia anteng. Oke siiip, ajaib sekali ni tips, dan saya berhasil pegang tuh congor babi untuk ngukur jumlah pernafasannya dalam 1 menit. Yaaah basaaah deh tanganku sama air liurnya bzbzbzbz. Oh ya tambahan ni, kemaren aku sempet menafsirkan umur babi yang punya berat sekitar 200kgan ini. Aku nafsirin sekitar umur 3,5 tahun lah yaa, berdarkan berat badannya gitu. TAPIII ternyata eh ternyataaaa umurnya masih 8 bulan. GEMBEL KAN?!!!!! Umur 7 bulan bisa mencapai berat 200 kgan. EKSTRIIIM GILAAAA!!!

Yaaa begitulah kira-kira praktikum dengan hewan babi, rusuh tapi menyenangkan. Oh ya tenaaang hehe aku muslim dan saya sudah bersuci setelah praktikum itu jadi jangan ada pikiran pikiran negatif hehe. Tapi jujur, ada satu hal yang perlu digaris bawahi. Pemilik peternakan babi adalah orang etnis cina (NO SARA, aku bukan pengacara yang bersedia jadi calon presiden muda *harusnya kalian tau siapa*) tapi beliau baik banget, ngasih aku air minum sama wafer buat ganjel perut hahaahhaha dan tentunya sangat menghargai saya sebagai muslim bahkan beliau menyiapkan tempat bersuci khusus dengan pasir dan seperangkatnya serta tau tata cara bersuci. SO? Kenapa sih diantara kita masih sering menyinggung-nyinggu SARA? Padahal saling menghormati dengan sejuta perbedaan itu indah looo HAHAHA TUMBEN AKU BIJAKSANA

OKEE NEXT tunggu tulisan saya selanjutnya!!!

3 komentar:

  1. rodo mlenceng neng akhir..tapi blogmu konsisten bianget..

    BalasHapus
  2. haha, asistne pas iku aku dudu le..?? haaaa, apik critamu..

    BalasHapus